Pelatihan Project Cycle Management Jadi Langkah Tingkatkan Kapasitas Analis Kerja Sama

INIMAKASSAR.COM – Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) melalui Pusat Pembinaan Analis Kerja Sama (Pusbin AKS) menyelenggarakan Pelatihan Teknis Project Cycle Management bagi Jabatan Fungsional Analis Kerja Sama (JF AKS) di Pusat Pengembangan Kompetensi Aparatur Sipil Negara (PPKASN), Jakarta, Senin (10/8/2026). Pelatihan yang berlangsung selama lima hari, pada 10–14 Agustus 2026, tersebut diikuti oleh 35 peserta JF AKS dari berbagai kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.
Kepala Pusbin AKS, Andri Kurniawan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelatihan bagi JF AKS merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari strategi pembinaan aparatur berbasis sistem merit. Upaya tersebut diarahkan untuk mencetak PNS yang profesional dan berdaya saing global dalam mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.

Andri menjelaskan bahwa Pelatihan Teknis Project Cycle Management merupakan salah satu program pengembangan kompetensi teknis yang krusial bagi JF AKS. Pelatihan ini sejalan dengan upaya memperkuat profesionalisme aparatur yang menangani kerja sama. Kolaborasi antara pemerintah, negara mitra, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung pembangunan membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi khusus untuk mengelola proses kerja sama secara terstruktur, terukur, dan berkelanjutan.

Bacaan Lainnya

Kompetensi tersebut mencakup kemampuan dalam merencanakan, melaksanakan, memantau, hingga mengevaluasi proyek kerja sama. Melalui penguatan kompetensi tersebut, pengelolaan kerja sama diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan memberikan manfaat yang optimal bagi pemerintah dan masyarakat.

Di tengah perubahan dan dinamika kerja sama pembangunan global, pengelolaan proyek menghadapi berbagai tantangan dan risiko, antara lain activity trap, groupthink, dan actor alignment. Menurut Andri, kondisi tersebut menuntut JF AKS untuk memiliki kemampuan dalam mengelola siklus proyek secara terstruktur, adaptif, serta berbasis bukti dan data.

“Dengan kemampuan tersebut, proyek kerja sama diharapkan dapat lebih berorientasi pada hasil, efektif, dan berkelanjutan,” tutur Andri.

Lebih lanjut, penguatan kompetensi melalui pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan JF AKS dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh secara langsung pada pengelolaan proyek kerja sama di instansi masing-masing. Peserta juga didorong untuk membagikan pengetahuan dan praktik baik kepada rekan kerja agar proses pembelajaran dan pengembangan kompetensi dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Dalam penyelenggaraan pelatihan ini, Pusbin AKS bekerja sama dengan DT Global Asia Pacific sebagai mitra pengajar dan fasilitator. Kolaborasi tersebut didukung oleh kapasitas dan pengalaman internasional DT Global Asia Pacific dalam pengelolaan proyek kerja sama, penerapan results-based management, serta monitoring, evaluation, and learning.

“Kolaborasi ini diharapkan dapat menghadirkan materi yang komprehensif, interaktif, dan aplikatif guna memenuhi kebutuhan kompetensi teknis teman-teman JF AKS. Kami juga berharap kolaborasi antara Pusbin AKS dan DT Global Asia Pacific dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang,” jelas Andri.

Selama lima hari pelatihan, peserta akan mendalami berbagai materi terkait pengelolaan siklus proyek kerja sama. Materi tersebut mencakup pemahaman konteks proyek, identifikasi pemangku kepentingan dan kebutuhan, pengembangan tujuan dan results chain, perencanaan dan kesiapan implementasi, pengelolaan risiko, serta penyusunan kerangka pemantauan dan evaluasi.

Andri berharap melalui pelatihan ini, peserta mampu meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam mengelola proyek kerja sama secara sistematis, adaptif, dan berorientasi pada hasil. Ia juga mendorong peserta untuk memanfaatkan pelatihan sebagai ruang bertukar pengalaman dan praktik baik, memperluas jejaring, serta membangun kolaborasi positif antarpengelola kerja sama dari berbagai instansi.

Pelatihan Teknis Project Cycle Management diharapkan tidak hanya meningkatkan kompetensi individual JF AKS, tetapi juga memperkuat kapasitas kelembagaan dalam merancang dan mengelola proyek kerja sama yang efektif, akuntabel, berkelanjutan, serta mampu memberikan dampak nyata bagi pembangunan nasional.(***)

Pos terkait