inimakassar.com – Mengurangi sampah makanan atau food waste menjadi salah satu langkah paling cepat, murah, dan efektif untuk memperlambat laju perubahan iklim. Pesan ini menjadi salah satu pembahasan utama dalam High-Level Super Pollutant Reception yang dihadiri Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Moh. Jumhur Hidayat, bersama Raja Charles III, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres, dan para pemimpin dunia di Istana St James’s, London.
Forum yang menjadi bagian dari London Climate Action Week (LCAW) 2026 tersebut membahas upaya global mengurangi super polutan, terutama gas metana, yang menjadi salah satu penyebab utama pemanasan global.
Bagi Indonesia, isu ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sebagian besar emisi metana berasal dari pembusukan sampah organik, terutama sisa makanan yang menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Mengapa Sampah Makanan Perlu Dikurangi?
Setiap makanan yang terbuang bukan hanya berarti pemborosan bahan pangan, tetapi juga menghasilkan gas metana ketika membusuk di TPA. Gas ini memiliki kemampuan memerangkap panas jauh lebih besar dibandingkan karbon dioksida dalam jangka pendek sehingga mempercepat perubahan iklim.
Dampaknya dapat dirasakan masyarakat melalui meningkatnya suhu udara, cuaca yang semakin ekstrem, banjir, kekeringan, hingga terganggunya produksi pangan.
Karena itu, mengurangi sampah makanan menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap orang untuk membantu mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus menghemat pengeluaran rumah tangga.
Menteri Lingkungan Hidup Moh. Jumhur Hidayat mengatakan Indonesia terus mendorong berbagai upaya pengendalian emisi, tidak hanya melalui transisi energi, tetapi juga melalui pengelolaan sampah yang lebih baik.
“Kehadiran kita di forum ini menegaskan komitmen Indonesia bahwa kita tidak hanya berfokus pada transisi energi, tetapi juga pada aksi nyata di sektor pengelolaan limbah. Gas metana yang dihasilkan dari tumpukan sampah, terutama sisa makanan, adalah ancaman yang harus kita tangani bersama,” ujar Menteri Jumhur.
Menurutnya, pengelolaan sampah yang baik dimulai dari rumah tangga, termasuk dengan mengurangi makanan yang terbuang, memilah sampah organik, dan mengolahnya agar tidak seluruhnya berakhir di TPA.
“Mengurangi food waste bukan hanya soal lingkungan. Ini juga berkaitan dengan ketahanan pangan, efisiensi penggunaan sumber daya, dan perubahan perilaku masyarakat menuju pola hidup yang lebih berkelanjutan,” tambahnya.
Indonesia Perkuat Pengelolaan Sampah
Pemerintah Indonesia telah menjadikan pengurangan emisi metana dari sektor limbah sebagai bagian dari kebijakan nasional untuk menghadapi perubahan iklim.
Melalui penguatan pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir, pemerintah mendorong berkurangnya sampah yang dibuang ke TPA, peningkatan pengolahan sampah organik, serta penghentian praktik pembuangan sampah terbuka (open dumping). Upaya ini juga menjadi bagian dari target penurunan emisi gas rumah kaca yang dijalankan bersama pemerintah daerah melalui Subnational NDC Roadmap.
Raja Charles III Soroti Pentingnya Mengurangi Food Waste
Dalam acara tersebut, Raja Charles III mengunjungi instalasi Methane Takeaway yang diprakarsai oleh The Waste and Resources Action Programme (WRAP). Instalasi ini memperlihatkan bagaimana pengurangan limbah makanan dapat menjadi salah satu solusi paling cepat dan hemat biaya untuk mengurangi emisi metana.
Pesan tersebut sejalan dengan ajakan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres yang menyerukan seluruh negara untuk mempercepat pengurangan limbah makanan, menghentikan praktik open dumping, serta meningkatkan pengelolaan gas metana di Tempat Pemrosesan Akhir.
Langkah Sederhana yang Bisa Dilakukan Masyarakat
Pengendalian perubahan iklim tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran penting melalui kebiasaan sehari-hari, antara lain:
- Membeli makanan sesuai kebutuhan agar tidak terbuang.
- Menghabiskan makanan yang telah disiapkan.
- Memilah sampah organik dan anorganik.
- Mengolah sampah organik menjadi kompos bila memungkinkan.
- Mengurangi pembuangan sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir.
Langkah-langkah sederhana tersebut dapat membantu menekan emisi metana, mengurangi pencemaran lingkungan, menjaga ketahanan pangan, sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi generasi mendatang.
Keikutsertaan Indonesia dalam London Climate Action Week 2026 menunjukkan komitmen pemerintah untuk terus memperkuat kerja sama internasional sekaligus menghadirkan kebijakan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.





