INIMAKASSAR.COM – tidak ada yang istimewa dari sebuah ruang kelas yang mulai riuh ketika guru datang. Kursi bergeser. Buku dibuka. Percakapan perlahan surut. Mata siswa beralih ke depan kelas.
Namun di sebuah madrasah di Kota Banjar, Jawa Barat, ada satu detail yang membuat ruang kelas itu menjadi potret kecil Indonesia. Guru yang berdiri di depan mereka adalah penganut taat Kristen Protestan.
Namanya Roma Fiorentina Situmeang. Guru Bahasa Indonesia di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Banjar itu berasal dari Pekanbaru, Riau. Sebelum menjadi guru madrasah, Roma pernah mengajar di sekitar tempat asalnya.
Madrasah menjadi lingkungan baru baginya. Bukan hanya karena ia berpindah daerah, tetapi karena untuk pertama kalinya ia mengajar di lembaga pendidikan yang kultur kesehariannya sangat lekat dengan kehidupan keislaman.
Ada kegugupan yang tak bisa ia sembunyikan.
Roma sempat bertanya dalam hati, bagaimana penerimaan orang-orang terhadap dirinya. Bagaimana rasanya menjadi guru berbeda agama di tengah lingkungan madrasah. Apakah perbedaan agama akan menjadi jarak?
Kekhawatiran itu ternyata lebih besar daripada kenyataan yang ia temui.
Guru-guru di MAN Banjar menyambutnya terbuka. Mereka mendekat lebih dulu, membaur, dan memperlakukannya seperti anggota keluarga baru. Keraguan yang semula memenuhi kepala perlahan kehilangan tempat. “Lama-lama akhirnya jadi terasa biasa, karena tidak ada penolakan” lugasnya di Banjar. Kamis, (13/8/2026).
Dan barangkali, di situlah cerita tentang moderasi beragama seharusnya dimulai: ketika sesuatu yang berbeda tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang asing.
Moderasi yang Mengalir
Moderasi beragama kerap hadir dalam bahasa yang terdengar besar: toleransi, keberagaman, kebangsaan, persatuan. Tetapi di MAN Banjar, Roma menemukan bentuknya dalam perkara-perkara kecil.
Ketika ia masuk kelas, siswa pun memahami bagaimana harus bersikap. Mereka menyapanya dengan salam yang umum, “selamat pagi” atau “selamat siang”, tanpa ekspresi kikuk. Semuanya berlangsung natural.
Tidak ada sekat yang perlu dipertontonkan. Tidak ada perbedaan yang harus disembunyikan. Bagi Roma, sikap siswa yang spontan dan tidak dibuat-buat itu justru menjadi pengalaman yang mengharukan.
Sebab toleransi yang paling kuat mungkin bukan toleransi yang selalu diumumkan, melainkan toleransi yang sudah menjadi kebiasaan.
Keberagaman Lewat Praktik Nyata
Roma mengajar Bahasa Indonesia. Namun keberadaannya di MAN Banjar membuat satu pelajaran lain ikut tumbuh: keberagaman.
Kepada siswa, ia tidak hanya bicara tentang bahasa. Dalam kegiatan ekstrakurikuler, ia juga memberikan penguatan mengenai moderasi beragama dan wawasan kebangsaan. Ia pernah menggunakan video dan materi untuk mengajak siswa memahami bahwa hidup berdampingan dalam perbedaan bukan sesuatu yang mustahil.
Di Banjar, katanya, orang-orang dengan latar berbeda tetap dapat berjalan beriringan tanpa harus menunggu perbedaan itu menghilang. Di titik ini, keberadaan Roma menjadi lebih dari sekadar fakta bahwa seorang guru Kristen Protestan mengajar di madrasah.
Ia menjadi pengalaman langsung bagi siswa tentang keberagaman. Mereka tidak hanya membaca bahwa Indonesia terdiri atas berbagai agama. Mereka melihatnya di depan mata.
Tidak hanya belajar bahwa toleransi penting. Tetapi, mereka sudah mempraktikkannya dalam hubungan sehari-hari. Moderasi beragama akhirnya tidak berhenti sebagai teori. Perbedaan juga tidak lagi sekadar pelajaran. Ia menjadi pengalaman.
Bahasa Indonesia Menjadi Jalan yang Menyatukan
Ada ironi kecil yang menarik dalam perjalanan Roma.
Ia adalah guru Bahasa Indonesia di tengah lingkungan yang sehari-hari sangat akrab dengan bahasa Sunda. Di kelas, ia cukup tegas. Saat jam pelajarannya berlangsung, siswa diminta menggunakan Bahasa Indonesia.
Bukan karena bahasa daerah harus disingkirkan. Justru sebaliknya. Roma memahami bahwa bahasa Sunda telah menjadi bagian yang begitu lekat dalam kehidupan siswa. Digunakan di rumah, lingkungan bermain, dan kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ia memilih pendekatan bertahap. Dari dasar. Pelan-pelan. Menguatkan kembali kemampuan siswa menggunakan Bahasa Indonesia dalam situasi formal.
Di sinilah Bahasa Indonesia menemukan maknanya yang lebih luas. Bahasa persatuan tidak lahir untuk menghapus bahasa daerah. Ia hadir untuk membuat berbagai latar dapat menemukan ruang bersama.
Begitu pula keberagaman agama. Persatuan tidak membutuhkan keseragaman. Ia membutuhkan kesediaan untuk hidup bersama.
Kemerdekaan yang Diajarkan Setiap Hari
Momentum HUT Kemerdekaan RI kerap dirayakan dengan upacara, bendera, lagu kebangsaan, lomba, dan berbagai seremoni. Semua itu memang penting.
Namun ada kemerdekaan lain yang berlangsung jauh lebih sunyi. Yaitu, kemerdekaan untuk belajar tanpa merasa asing. Kemerdekaan untuk mengajar tanpa harus menyembunyikan identitas. Kemerdekaan untuk menjalankan keyakinan tanpa menghalangi keyakinan orang lain. Dan kemerdekaan untuk menjadi bagian dari sebuah komunitas meski tidak memiliki latar belakang yang sama.
Roma, yang dahulu pernah datang ke MAN Banjar dengan kegugupan. Kini ia mengajar, mendampingi siswa, dan menjadi bagian dari keseharian madrasah. Ia datang membawa identitasnya, dan madrasah tidak memintanya meninggalkan identitas itu.
Sebaliknya, lingkungan sekolah memberinya ruang untuk bekerja dan berkontribusi. Mungkin inilah wajah kemerdekaan yang paling dekat dengan pendidikan.
Sebab kemerdekaan tidak hanya dibangun oleh mereka yang mengangkat senjata di masa lalu. Ia juga dirawat oleh guru-guru yang setiap hari berdiri di depan kelas, mengajarkan ilmu, membentuk karakter, dan mempertemukan anak-anak dengan kenyataan bahwa berbeda tidak berarti harus berjarak.
Di MAN Banjar, Roma Fiorentina Situmeang tidak sedang mengajarkan toleransi sendirian. Ia dan para siswanya sedang menjalani pelajaran yang jauh lebih besar: bagaimana menjadi Indonesia.(***)





